AMM Ngaglik Ajak Masyarakat Sedekahkan Sampah
Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Ngaglik mengajak masyarakat mengelola sampah anorganik melalui Gerakan Sedekah Sampah (GSS) yang digelar rutin di berbagai lokasi setiap Ahad Pahing . Kegiatan pada Minggu (18/10/2026) dilakukan di Lapangan Pemda Sleman dengan mengumpulkan sampah terpilah untuk dijual, dan hasilnya disalurkan bagi kegiatan sosial.
Gerakan tersebut menjadi salah satu upaya AMM Ngaglik untuk mengajak masyarakat melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna, terutama sampah anorganik, dapat memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Nilai tersebut kemudian diubah menjadi dukungan ke berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Selama tiga tahun, GSS telah menghimpun dana sekitar Rp5 juta. Dana tersebut digunakan untuk mendukung operasional rumah ibadah, memberikan santunan kepada anak yatim piatu, membantu fakir miskin, dan mendukung pendidikan.
Pengelola GSS menyebut dana yang terkumpul berasal dari penjualan berbagai jenis sampah yang disetorkan masyarakat secara berkala. Meskipun jumlahnya tidak selalu sama setiap pelaksanaan, akumulasi hasil penjualan menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana memilah sampah dapat memberikan manfaat yang nyata apabila dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.
Koordinator GSS, Hidayatul Mabrur, mengatakan bahwa gerakan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah sekaligus mengubahnya menjadi sumber dana sosial. Menurutnya, pengelolaan sampah dari rumah dapat memberikan manfaat ganda, yakni menjaga kebersihan lingkungan dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Gerakan Sedekah Sampah ini bukan sekadar kegiatan mengumpulkan barang bekas. Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai dan dapat menjadi amal sosial,” ujar Hidayatul.
Ia menjelaskan, GSS tidak hanya berorientasi pada pengumpulan sampah, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan baru di tengah masyarakat. Warga didorong untuk mulai memilah sampah sejak dari sumbernya, sehingga sampah organik dan anorganik tidak tercampur. Dengan cara itu, sampah yang masih memiliki nilai jual dapat dimanfaatkan, sementara sampah yang tidak dapat digunakan kembali dapat ditangani dengan lebih tepat.
Sampah yang diterima meliputi plastik, kertas, kardus, logam, kaca, barang elektronik, dan minyak jelantah. Sampah harus dipilah, dibersihkan, dan dikeringkan sebelum dikumpulkan. Pengumpulan dengan drop box dilakukan melalui rumah ibadah, sekolah, dan komunitas.
Pemilahan tersebut diperlukan agar sampah lebih mudah ditimbang, disimpan, dan disalurkan kepada pihak yang dapat mengolahnya. Sampah yang masih bercampur dengan sisa makanan atau dalam kondisi basah biasanya memiliki kualitas lebih rendah dan dapat menimbulkan bau.
Karena itu, masyarakat diimbau menyiapkan sampah sebelum disetorkan.
Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang sebelum dijual kepada pengepul atau bank sampah. Hasil penjualannya disalurkan untuk kepentingan umat. Dengan mekanisme tersebut, masyarakat dapat berkontribusi melalui barang yang sudah tidak digunakan tanpa harus mengeluarkan uang secara langsung.
Menurut Hidayatul, konsep sedekah sampah juga membuka kesempatan bagi berbagai kelompok masyarakat untuk terlibat. Anak-anak dapat belajar memilah sampah dari rumah, sekolah dapat mengembangkan kegiatan lingkungan, sedangkan rumah ibadah dan komunitas dapat menjadi titik pengumpulan.
” Keterlibatan banyak pihak dinilai penting agar gerakan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah, membersihkan, dan mengeringkan sampah, pengelolaannya akan menjadi lebih mudah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan tersebut juga dapat mengurangi beban petugas kebersihan dan pengelola sampah. Sampah yang sudah dipisahkan sejak awal akan lebih mudah diproses, baik untuk digunakan kembali, didaur ulang, maupun dijual. Selain itu, lingkungan rumah menjadi lebih bersih karena sampah tidak menumpuk dan tidak tercampur dalam satu wadah.
Selain mengajak masyarakat menyedekahkan sampah, Hidayatul mengingatkan pentingnya mengurangi penggunaan barang sekali pakai, termasuk sampah berukuran kecil seperti lidi tusuk, plastik, serta berbagai kemasan sekali pakai.
Masyarakat tidak cukup hanya mengumpulkan sampah setelah digunakan, tetapi juga perlu mempertimbangkan jenis barang yang dibeli dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan barang yang dapat dipakai berulang kali dinilai lebih baik daripada terus mengandalkan produk sekali pakai.
“Sampah berupa lidi tusuk perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki ujung yang tajam. Jika dibuang sembarangan, lidi tersebut dapat melukai orang yang menginjak atau memungutnya, termasuk anak-anak dan petugas kebersihan. Lidi juga berpotensi mengganggu proses pengangkutan dan pengolahan sampah apabila tidak dikumpulkan dengan aman. Jangan menganggap sampah kecil tidak berbahaya. Jika dikumpulkan dalam jumlah banyak, sampah tersebut tetap akan menjadi persoalan lingkungan. Lidi yang tajam juga bisa melukai jika dibuang , sebaiknya
dibungkus dengan aman sebelum dibuang atau disetorkan,” katanya.
Pengelolaan yang aman juga diperlukan ketika lidi hendak disetorkan melalui kegiatan GSS. Lidi dapat dikumpulkan dalam botol bekas, kardus, atau wadah lain yang kuat, kemudian ditutup agar ujungnya tidak keluar. Cara tersebut dapat mencegah luka saat sampah dipindahkan, ditimbang, maupun diangkut.
Masyarakat juga diminta membawa wadah minum dan makanan sendiri untuk mengurangi timbulan sampah. Langkah tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari, baik saat berbelanja, menghadiri kegiatan masyarakat, maupun membeli makanan dan minuman.
Penggunaan wadah guna ulang dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap kantong plastik, gelas plastik, sedotan, kotak makanan, dan kemasan sekali pakai lainnya.
Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak apabila dilakukan secara rutin oleh banyak orang.
“Kami berharap masyarakat mulai membawa wadah sendiri dan mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai “ujarnya.
Hidayatul berharap Gerakan Sedekah Sampah dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak warga. Ia juga mengajak sekolah, rumah ibadah, organisasi masyarakat, serta komunitas lingkungan untuk membangun kerja sama dalam pengelolaan sampah dan penyaluran manfaatnya.
Menurutnya, keberhasilan gerakan tersebut tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul atau besarnya dana yang diperoleh. Hal yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, mengurangi sampah, dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kepedulian sosial. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)


