Adam Hawa Sejahtera Bekali Keluarga Rentan dengan Keterampilan Membuat GULASI
Adam Hawa Sejahtera (AHS), sebuah Lembaga Kesejahteraan Sosial binaan Kementerian Sosial RI, bekerja sama dengan Forum Komunikasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (FORKOM UMKM) kapanewon Ngaglik menggelar pelatihan pembuatan gula cair GULASI atau gula singkong bagi kelompok usaha Industri rumah tangga, keluarga miskin dan rentan miskin. Kegiatan berlangsung Jumat (25/9/2026) di Griya UMKM Ngaglik, Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman.
Pelatihan tersebut diarahkan untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan di rumah sekaligus membuka peluang usaha berbasis bahan pangan lokal. Peserta tidak hanya belajar membuat Gulasi, tetapi juga dikenalkan pada potensi pengembangannya menjadi produk bernilai tambah.
Ketua FORKOM UMKM Ngaglik sekaligus koordinator kegiatan, Anifah Mei Khati, mengatakan Gulasi dipilih karena bahan bakunya mudah diperoleh di lingkungan sekitar dan proses pengolahannya relatif sederhana.
“GULASI mempunyai prospek yang sangat bagus. menurut literatur gula singkong rendah kalori sehingga aman bagi penderita diabetes, autis atau orang yang sedang diet rendah gula. Dengan demikian GULASI dapat dijadikan produk pangan alternatif pengganti gula tinggi kalori. Bahan mudah didapat, mempunyai nilai tambah sehingga peluang pasar cukup menjanjikan,” kata Anifah.
Menurutnya, singkong yang selama ini banyak diolah menjadi makanan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk baru melalui proses enzimatis.
“Bahan bakunya mudah dan murah serta banyak terdapat di sekitar kita. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan dan keterampilan untuk mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Dalam praktiknya, pati singkong dicampur dengan air kemudian ditambahkan enzim alfa-amilase cair. Larutan dipanaskan sampai mendidih hingga terjadi perubahan warna dari putih menjadi bening. Setelah didiamkan sekitar 10 menit atau suhu kurang lebih 60 derajat Celsius, ditambahkan enzim glukoamilase cair.
Larutan kemudian ditutup dan didiamkan selama sekitar 24 jam agar proses enzimatis berlangsung optimal. Proses selanjutnya, larutan dipanaskan kembali hingga mengental. Proses tersebut menguraikan pati atau polisakarida menjadi gula yang lebih sederhana, terutama glukosa dan fruktosa.
“Dari sisi karakter rasa, gula hasil proses tersebut memiliki tingkat kemanisan yang berbeda dengan gula tebu yang umumnya berupa sukrosa. Fruktosa secara umum lebih manis dibandingkan sukrosa, sementara glukosa memiliki tingkat kemanisan lebih rendah.
Karakter tersebut menjadi salah satu aspek yang dapat dikembangkan dalam formulasi olahan makanan dan minuman.” terang Anifah.
Selanjutnya ia menjelaskan, Gulasi yang diperkenalkan dalam pelatihan dibuat tanpa campuran gula tebu, pewarna, pengawet maupun bahan tambahan lainnya, sehingga aman bagi kesehatan.
Melalui pelatihan ini ia berharap peserta tidak berhenti pada kemampuan membuat Gulasi, tetapi bisa mengembangkan menjadi produk usaha lain. Gulasi dapat dimanfaatkan dalam berbagai olahan makanan dan minuman, sehingga membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar.
Pelatihan GULASI menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi keluarga melalui peningkatan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri. Keluarga miskin dan rentan miskin diharapkan memiliki alternatif kegiatan produktif yang berpotensi menciptakan peluang ekonomi sendiri,” tutur Anifah.
(Upik Wahyuni KIM Donoharjo)


